RANTING NU SUGIHWARAS
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
Safari Religi GP Ansor Ranting Sugihwaras: Meneladani Jejak Ulama di Makam Auliya Sono Sidoarjo
SUGIHWARAS – Gerakan Pemuda Ansor Ranting Sugihwaras, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, menggelar kegiatan Safari Religi di Makam Auliya Sono, Desa Sidokerto, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, pada Selasa malam, 5 Mei 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor yang biasanya dilaksanakan secara bergiliran di rumah sahabat Ansor, masjid, maupun musholla. Namun, pada kesempatan kali ini, kegiatan digelar di salah satu situs religi bersejarah di Sidoarjo, yakni Makam Auliya Sono.
Safari Religi tersebut diisi dengan pembacaan sholawat, Ratibul Haddad, serta pembacaan Surat Yasin dan Tahlil. Doa bersama juga dipanjatkan untuk para ulama dan auliya yang dimakamkan di kompleks Makam Auliya Sono.
Ketua GP Ansor Ranting Sugihwaras, Matfur, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana memperkuat silaturahmi antaranggota, tetapi juga sebagai upaya mengingat kembali sejarah penyebaran Islam di Kabupaten Sidoarjo.
“Tujuan dari kegiatan malam ini adalah, selain silaturahmi antaranggota, kita juga menggali dan mengingat kembali sejarah penyebaran agama Islam di Kabupaten Sidoarjo,” ujar Matfur.
Menurutnya, Makam Auliya Sono memiliki nilai sejarah yang penting bagi masyarakat Sidoarjo, khususnya warga Nahdliyin. Tempat tersebut dikenal sebagai salah satu simbol sejarah perkembangan Islam dan pusat keilmuan di Sidoarjo pada masa lalu.
Makam Auliya Sono selama ini dikenal sebagai kawasan religi yang memiliki hubungan erat dengan sejarah pesantren dan ulama besar di Sidoarjo. Sejumlah rujukan menyebutkan bahwa kawasan tersebut menjadi bukti bahwa Sidoarjo pernah menjadi salah satu pusat keilmuan Islam pada masa lampau.
Di kompleks tersebut terdapat makam sejumlah ulama yang dihormati masyarakat, di antaranya KH Muhayyin, Nyai Asfiyah, KH Abu Mansur, KH Zarkasyi, KH Said, dan KH Maksum. Beberapa sumber juga mencatat bahwa Pondok Pesantren Sono memiliki keterkaitan historis dengan para ulama besar, termasuk tokoh-tokoh pesantren dan pendiri Nahdlatul Ulama.
Melalui kegiatan Safari Religi ini, GP Ansor Ranting Sugihwaras ingin mengajak para kader muda untuk tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga memiliki kedekatan spiritual serta kesadaran sejarah. Ziarah dan dzikir bersama dinilai menjadi ruang pembelajaran untuk meneladani perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam yang ramah, moderat, dan berakar kuat pada tradisi pesantren.
Matfur menambahkan, kegiatan seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta kepada ulama, memperkuat nilai keagamaan, serta menjaga tradisi amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah masyarakat.
“Harapannya, sahabat-sahabat Ansor bisa terus menjaga tradisi baik ini. Ziarah bukan hanya datang dan berdoa, tetapi juga mengambil pelajaran dari perjuangan para ulama terdahulu,” imbuhnya.
Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan. Para anggota GP Ansor Ranting Sugihwaras tampak antusias mengikuti rangkaian dzikir, sholawat, Yasin, dan Tahlil hingga selesai.
Dengan terselenggaranya Safari Religi ini, GP Ansor Ranting Sugihwaras menegaskan komitmennya untuk terus merawat tradisi keagamaan, memperkuat ukhuwah, serta menjaga kesinambungan nilai perjuangan ulama di tengah kehidupan masyarakat.


