RANTING NU SUGIHWARAS
Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo
LESBUMI RANTING SUGIHWARAS BUDAYAKAN TERBANG JIDOR BERSAMA GP. ANSOR
Sugihwaras — Upaya menjaga dan menghidupkan kembali kesenian tradisional terus dilakukan di tengah perubahan zaman. Salah satunya melalui kegiatan budaya yang digerakkan oleh LESBUMI Ranting Sugihwaras bersama GP Ansor dengan memperkenalkan dan melestarikan kesenian terbang jidor sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda dan masyarakat untuk kembali mengenal kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat, khususnya tradisi musik religi yang menggunakan instrumen terbang dan jidor.
Bagi masyarakat Jawa, terbang jidor bukan sekadar pertunjukan musik. Kesenian ini memiliki keterkaitan erat dengan tradisi keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat. Lantunan shalawat, tabuhan terbang, serta dentuman jidor menjadi satu kesatuan yang menghadirkan suasana kebersamaan sekaligus menjadi media untuk merawat tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Keterlibatan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) bersama GP Ansor juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan aktivitas organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Melalui kegiatan tersebut, kesenian tradisional tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga diberi ruang untuk tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Merawat Tradisi, Menjaga Identitas
Pelestarian terbang jidor menjadi penting karena perkembangan teknologi dan perubahan selera hiburan masyarakat berpotensi membuat kesenian tradisional semakin jarang dimainkan, terutama oleh generasi muda.
Karena itu, keterlibatan anak-anak muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan kesenian tersebut. Ketika generasi muda ikut belajar memainkan alat musik, memahami irama, serta mengenal nilai-nilai budaya yang menyertainya, proses pewarisan tradisi dapat terus berlangsung.
Di sisi lain, kegiatan kebudayaan semacam ini juga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial. Latihan dan pementasan terbang jidor membutuhkan kekompakan antarpemain. Dari proses tersebut tumbuh semangat gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap warisan budaya di lingkungan sendiri.
Budaya dan Nilai Keislaman Berjalan Bersama
Dalam konteks masyarakat Nahdlatul Ulama, seni dan budaya memiliki ruang yang cukup kuat dalam kehidupan sosial-keagamaan. Tradisi bershalawat, pembacaan syair keagamaan, serta kesenian tradisional telah lama menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Muslim, khususnya di Jawa.
LESBUMI memiliki posisi strategis dalam mendorong agar seni dan budaya tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sementara GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan NU memiliki peran penting dalam melibatkan generasi muda dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kebudayaan.
Kolaborasi keduanya di tingkat Ranting Sugihwaras menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat.
Bukan sekadar mempertahankan bentuk kesenian, tetapi juga menjaga nilai kebersamaan dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.
Jangan Sampai Generasi Muda Hanya Menjadi Penonton
Kesenian tradisional akan bertahan apabila ada proses regenerasi. Karena itu, kegiatan terbang jidor diharapkan tidak berhenti pada pementasan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan pembelajaran dan kaderisasi pemain.
Generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk mengenal kesenian tersebut secara langsung. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengetahui terbang jidor sebagai kesenian yang pernah dimainkan oleh orang-orang terdahulu, tetapi juga menjadi bagian dari generasi yang ikut merawat dan mengembangkannya.
Dari Sugihwaras, pelestarian budaya dapat dimulai dari hal sederhana: berkumpul, belajar, memainkan alat musik tradisional, bershalawat, dan menjaga tradisi agar tetap hidup.
Pada akhirnya, merawat budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman. Justru dengan mengenalkan warisan budaya kepada generasi baru, masyarakat dapat berjalan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar sejarah dan identitasnya.


